Ads 720 x 90

amalan bulan puasa

  

Tengok di lingkungan sekitar kita entah itu kawan dan kerabat aku yang jarang sholat terlebih zikir dan tanpa
 
 
 
 
 
 
 
 amalan-amalan tertentu, dapat kaya dan sejahtera hidupnya. malah yang sering sholat dan zikir hidupnya biasa-biasa saja.

Yang tekun sholat malah sukar dan miskin

Yang tidak pernah solat malah kaya raya

Seharusnya jikalau muslim menyandarkan terhadap yang Maha Besar, pencipta langit dan bumi sebaiknya tidak menyerupai itu.
Ketahuilah Sahabatku Bahwa Itu Semua Adalah Istidraj


Bisa jadi ada yang mendapat limpahan rezeki tetapi ia yakni orang yang gemar maksiat. Ia tempuh jalan kesyirikan –lewat ritual pesugihan- misalnya, dan benar ia cepat kaya.

Ketahuilah bahwa mendapat limpahan kekayaan menyerupai itu bukanlah sebuah tanda kemuliaan, tetapi itu yakni istidraj.


Istidraj artinya sebuah jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam kondisi terus menerus bermaksiat pada Allah.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَاذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila kau menyaksikan Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal ia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu yakni istidraj (jebakan berupa lezat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyampaikan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُواأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melalaikan perayaan yang sudah diberikan terhadap mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang sudah diberikan terhadap mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka di saat itu mereka termangu berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 141) disebutkan, “Ketika mereka meninggalkan perayaan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan perayaan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu lezat selaku bentuk istidraj pada mereka.

Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun termangu dari segala kebaikan.”

Syaikh As Sa’di menyatakan, “Ketika mereka melalaikan perayaan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah membuatkan pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, risikonya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari banyak sekali kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan damai dengan kondisi dunia mereka. Namun itu bekerjsama lebih berat hukumannya dan jadi petaka yang besar.” (Tafsir As Sa’di, hal. 260).

Kesimpulannya adalah, banyak muslim yang tidak sepenuhnya muslim, tujuannya tidak sepenuhnya menyerahkan diri terhadap Kekuatan dan Ilmu-Nya, dan lebih menuhankan rasio nalar pikirannya. Mereka lebih percaya kecerdasannya dari pada kecerdasan Tuhan Sang Pemurah. Tapi itu bukanlah anda..

Contoh: Sedekah ilmu kaya, itu Janji Tuhan. Dan kita ternyata sulit sekali percaya Ilmu Tuhan tentang sedekah. Tawakal dan yakni fasilitas mendapat rezeki tak terduga.

Dan kita masih kadang-kadang kalah sebelum tawakal. Sabar dan sholat yakni penolong. Dan kita lebih banyak meminta tolong terhadap mahluk. Dan masih banyak sekali yang lainnya.

Jikalau banyak muslim yang betul-betul muslim aku sungguh percaya sekali bahwa islam akan jaya.

Tetapi marilah sejenak lupakan antara muslim miskin dan nonmuslim yang kaya raya. Sejenak renungkan bahwa kaya dan miskin tetaplah ujian.

Kaya dan miskin yakni ukuran dunia saja sementara jikalau kita membicarakan akherat bukan melulu kaya dan miskin secara bahan semata tetapi lebih terhadap kaya hatinya.

Bagi muslim yang ingin kaya maka berusahalah sebagaimana non muslim yang melakukan pekerjaan dan berupaya keras untuk mengganti nasib.

Bedanya non muslim lebih mentuhankan kecerdasan sendiri, sedangkan muslim sebaiknya tidak demikian. Ia tetaplah berupaya keras dengan melakukan pekerjaan sebaik-baiknya lalu percaya akan kuasa Tuhan Yang Pemurah.

Syukurilah apa yang dikala ini menjadi rizkimu tanpa mesti iri dengan kenikmatan orang lain percayalah allah sudah merencanakan yang terbaik  untuk hambanya yang tekun merencanakan untuk di alam abadi nanti.

Sumber: mediandaterkini.blogspot.co.id

Related Posts

Subscribe Our Newsletter
} //]]>