Ads 720 x 90

Sedang Hangat

pinterest.com Sebagai wanita kita tidak bisa membaca perasaan pria apakah benar-benar suka atau sikap baiknya hanya sebatas teman saja. Hal ini tidak mudah, namun jika bersikap seperti ini dia pasti punya perasaan sama kamu. Namun wanita cenderung tidak peka, sehingga jika sudah bersikap seperti ini harusnya peka dan menyadari bahwa dia memang memiliki perasaan terhadapmu. 1. Grogi Saat Bertemu Langsung, Tapi Ramah Secara Online Pria yang suka sama kamu akan terlihat gugup dan groki ketika bertemu langsung. Padahal dia sangat ramah secara online bahkan terlihat bercanda ketika di chat. 2. Selalu Fast Respon Jika pria suka denganmu pasti tidak akan membiarkan pesanmu diabaikan dan dianggurin. Jika pria tersebut selalu cepat membalas pesanmu maka artinya dia ada rasa sama kamu. 3. Suka Bertanya Hal Diluar Topik Ketika kehabisan hal untuk dibahas, tiba-tiba dia bertanya hal diluar nalar agar tidak kehasbian obrolan. 4. Bertanya Apakah Kamu Sedang Menyukai Seseorang Secara basa-basi dia bertanya apakah kamu memiliki orang yang disuka dan bertanya apakah sedang dekat dengan seseorang. Agar dia tahu apakah dirinya memiliki kesempatan untuk mendekatimu. 5. Suka Menggodamu Biar tidak canggung, dia suka menggoda dengan cara yang manis dan romantis. Kamu merasa bahwa cara dia menggoda cering kati mengejek, menjatuhkanmu atau merendahkanmu.

5 Penyesalan yang Sering Dirasakan Usai Lebaran. Bikin Hari Rayamu Jadi Kurang Bermakna

Sebagai umat muslim, pernah nggak sih kamu merasa bulan ramadan berlalu dengan begitu cepat? Rasanya baru kemarin bangun tidur untuk sahur pertama eh ternyata besok udah malam takbiran aja. Perasaan pun jadi campur aduk mengingat ramadan kali ini belum maksimal amal ibadahnya. Di sisi lain, kamu ingin memperbaiki kekurangan itu tapi khawatir nggak bisa bertemu dengan bulan ramadan tahun depan. Duh..


Itu baru satu dari sekian banyak penyesalan yang biasanya dirasakan usai ramadan maupun lebaran. Ada nggak sih hal-hal lain yang juga kamu harap pernah lakukan di bulan ramadan tapi ternyata nggak terwujud? Coba simak satu per satu di bawah ini.


1. Awal puasa udah meniatkan fokus ibadah tapi kenyataannya belum juga maksimal

Kurang fokus ibadah

Kurang fokus ibadah | Photo by Rachid Oucharia on Unsplash


Salat, mengaji, tadarusan jadi aktivitas yang kamu harap bisa terwujud di bulan ramadan. Fokus mendalami ilmu agama memang jadi harapan banyak umat muslim di bulan suci. Dorongan untuk terus beramal ditambah lagi dengan keyakinan bahwa pahalamu akan dilipatgandakan selama 30 hari itu.


Sebelum hari pertama puasa kamu bahkan menyusun jadwal ibadah tambahan agar nggak bersinggungan dengan pekerjaan sehari-hari. Namun sayang, realisasinya nggak semulus itu. Banyak jadwal mengaji yang terlewatkan dan salat sunah yang digantikan dengan sibuk mengurus pekerjaan duniawi.


Akhirnya, saat salat Idulfitri tiba, rasa kosong itu nggak bisa ditutup-tutupi. Dalam hati kamu merasa ramadan kali ini terasa seperti rutinitas tahunan karena kamu nggak berhasil memanfaatkannya sepenuh hati.


2. Duit THR cuma numpang lewat karena habis untuk belanja yang kurang perlu

Uang THR ludes seketika

Uang THR ludes seketika | Photo by Arturo Rey on Unsplash


Seandainya aja dari awal bisa nahan diri untuk menunda keinginan, pasti sampai hari lebaran uang THR belum ludes gini~


Terkadang, uang terasa sedikit bukan karena jumlah nominalnya. Namun, strategimu dalam membelanjakan juga turut mempengaruhi. Wajar banget kalau kamu langsung pengen check out semua barang wish list ketika baru aja dapat THR. Namun, kamu juga paham ‘kan kalau masih ada beberapa pengeluaran untuk kebutuhan hari raya?


Tepat setelah keinginanmu terpenuhi, barulah kamu sadar bahwa seharusnya uang THR itu lebih banyak dibelanjakan untuk kebutuhan yang lebih penting. Baju lebaran, ongkos mudik, oleh-oleh untuk keluarga, hingga uang THR untuk para keponakan. Andai aja bisa disiplin, nggak menutup kemungkinan sisa THR-mu bisa ditabung.


Sialnya lagi, uang THR itu malah udah ludes bahkan sebelum lebaran. Hmm, penyesalan memang selalu datang terlambat ya~


3. Kamu kurang meluangkan waktu bareng keluarga saat ramadan dan lebaran

Kurang meluangkan waktu untuk keluarga

Kurang meluangkan waktu untuk keluarga | Photo by Muktasim Azlan on Unsplash


Mungkin kamu jadi salah satu orang yang belum punya kesempatan untuk menjalani ramadan dan lebaran bareng keluarga. Nggak cuma kurang menjalin komunikasi, kamu juga sering terlalu larut dalam kesibukan sendiri sampai lupa kalau kehadiranmu sangat mereka rindukan.


Memang betul, nggak ada orang yang ingin tetap bekerja saat libur lebaran. Di satu sisi kamu juga nggak bisa mengubah kondisi. Tapi ‘kan menjalin komunikasi saat ini nggak melulu harus bertemu langsung. Satu pesan singkat darimu sebenarnya udah cukup untuk melegakan hati mereka. Malah lebih bagus kalau sehabis kerja, kamu meluangkan waktu untuk menelepon atau video call.


Tapi kamu nggak melakukan itu. Ucapan selamat hari raya darimu pun terkesan seperti formalitas belaka. Kalau kamu masih bertanya-tanya kenapa setiap lebaran terasa gini-gini aja dan kurang bermakna, mungkin penyesalan satu ini yang harus kamu tebus tahun depan.


4. Memilih mudik di hari H lebaran untuk menghindari kemacetan

Mudik hari H malah terjebak macet

Mudik hari H malah terjebak macet | Photo by Cheung Yin on Unsplash


Lagi-lagi rencanamu meleset. Ternyata nggak cuma kamu yang mikir kalau mudik di hari H lebaran akan terbebas dari macet. Beribu-ribu pemudik lainnya pun memikirkan hal yang sama. Alhasil, kalian bertemu di jalan raya padat merayap, jauh dari kata lengang seperti yang diharapkan.


Sejujurnya ini bukan fenomena baru. Hampir setiap tahun, puncak arus mudik lebaran terjadi sekitar H-1 dan hari H lebaran. Karena kurang jeli membaca situasi, waktumu jadi banyak terbuang di jalan. Bukannya melepas rindu dengan keluarga, kamu malah stres sendiri menghadapi kemacetan yang nggak ada ujungnya itu.


Padahal bisa aja di waktu yang sama kamu udah makan kue nastar sambil ngobrol bareng keluarga andai dari awal lebih berhati-hati mengambil keputusan.


5. Melontarkan pertanyaan basa-basi yang bikin risih saat kumpul keluarga

Basa-basi yang bikin risih

Basa-basi yang bikin risih | Photo by Gradikaa Aggi on Unsplash


Lebaran seketika berubah jadi momen penghakiman saat salah satu anggota keluarga mulai merasa berhak melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung ranah pribadi. Awalnya mungkin hanya untuk basa-basi karena udah lama nggak bertemu, tapi ‘tradisi’ itu yang membuat banyak orang harus menyiapkan mental baja setiap kali lebaran tiba.


Alih-alih menyiapkan mental, kamu justru jadi penyebab orang-orang itu was-was saat kumpul keluarga. Kamu jadi sosok yang sangat dihindari oleh mereka yang nggak ingin kehidupan pribadinya dicampuri. Kamu bisa aja berdalih hanya ingin memulai obrolan. Namun nyatanya, topik yang kamu singgung sama sekali nggak membuat suasana lebaran jadi bermakna.


Dengan kamu menyesal telah melontarkan pertanyaan basa-basi kurang penting itu, berarti kamu punya kepekaan yang cukup tinggi terhadap respons mereka. Mulai sekarang, kamu harus belajar memahami bahwa ada banyak topik yang menarik untuk diobrolkan selain mengulik kenapa keponakanmu belum menikah atau kapan mbak yang satu itu berniat nambah momongan~


Penyesalan memang nggak akan mengubah kenyataan yang udah terjadi. Namun, fakta bahwa kamu merasa bersalah ketika melakukan lima hal di atas berarti masih ada harapan untuk menjalani ramadan dan lebaran yang lebih baik di tahun depan.


Memang nggak ada yang tahu apakah masih bisa dipertemukan lagi dengan bulan suci berikutnya. Meskipun begitu, jangan putus asa ya! Ayo mulai sekarang perbaiki lagi sehingga saat ramadan tiba, kamu nggak mengulangi kesalahan yang sama.


Related Posts

Subscribe Our Newsletter
} //]]>