Ads 720 x 90

Sedang Hangat

pinterest.com Sebagai wanita kita tidak bisa membaca perasaan pria apakah benar-benar suka atau sikap baiknya hanya sebatas teman saja. Hal ini tidak mudah, namun jika bersikap seperti ini dia pasti punya perasaan sama kamu. Namun wanita cenderung tidak peka, sehingga jika sudah bersikap seperti ini harusnya peka dan menyadari bahwa dia memang memiliki perasaan terhadapmu. 1. Grogi Saat Bertemu Langsung, Tapi Ramah Secara Online Pria yang suka sama kamu akan terlihat gugup dan groki ketika bertemu langsung. Padahal dia sangat ramah secara online bahkan terlihat bercanda ketika di chat. 2. Selalu Fast Respon Jika pria suka denganmu pasti tidak akan membiarkan pesanmu diabaikan dan dianggurin. Jika pria tersebut selalu cepat membalas pesanmu maka artinya dia ada rasa sama kamu. 3. Suka Bertanya Hal Diluar Topik Ketika kehabisan hal untuk dibahas, tiba-tiba dia bertanya hal diluar nalar agar tidak kehasbian obrolan. 4. Bertanya Apakah Kamu Sedang Menyukai Seseorang Secara basa-basi dia bertanya apakah kamu memiliki orang yang disuka dan bertanya apakah sedang dekat dengan seseorang. Agar dia tahu apakah dirinya memiliki kesempatan untuk mendekatimu. 5. Suka Menggodamu Biar tidak canggung, dia suka menggoda dengan cara yang manis dan romantis. Kamu merasa bahwa cara dia menggoda cering kati mengejek, menjatuhkanmu atau merendahkanmu.

Proses Perjalanan Seorang Perempuan Mencari Jati Diri, Coba Segala Hal Baru Hingga Nyaman di Satu Titik

Perjalanan hidup seseorang pastinya melewati proses yang berbeda-beda. Ada yang ketika lulus SMA langsung kuliah di perguruan tinggi negeri, menikmati masa-masa kuliahnya dengan senang, lalu lulus tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.


Namun ada juga yang ketika lulus SMA tidak bisa melanjutkan kuliah dan harus langsung bekerja mungkin dengan pekerjaan yang memang bukan passion-nya.


Untuk perjalanan hidupku, aku melewati proses yang penuh lika-liku. Setelah lulus SMA aku mencoba mengikuti SBMPTN namun hasilnya tidak lolos, aku terus mengikuti ujian mandiri di beberapa perguruan tinggi negeri namun tetap lolos juga sampai akhirnya aku memilih untuk kuliah di perguruan tinggi swasta.


Aku memilih jurusan broadcasting, karena menurut ayahku jurusan tersebut masih nyambung dengan hobi menulis, ayahku berpikir mungkin nantinya aku bisa menjadi seorang scriptwriter atau jurnalis. Padahal, sedari SMA aku sangat menginginkan kuliah jurusan Sastra Indonesia. Aku menuruti pilihan ayahku dengan mengambil jurusan broadcasting.


Namun, perkuliahanku hanya sampai di semester 4 karena aku mulai merasa bukan jalan seperti ini yang aku mau untuk mewujudkan mimpiku. Aku tidak suka dengan semua kegiatanku di kampus yang hanya 10% hobi menulisku terpakai. Meski begitu, aku tetap menyerap segala ilmu yang aku terima selama kuliah.


Aku memutuskan untuk berhenti kuliah dengan penuh pertimbangan. Karena aku yakin, dengan menjalani setengah hati nantinya tidak akan berguna dan hanya buang-buang waktu. Tidak ada pertentangan dari orang tuaku, meskipun mereka sangat menyayangkan keputusanku ini.


Setelah berhenti kuliah aku sempat berdiam di rumah selama kurang lebih 6 bulan, hingga suatu malam aku berpikir, aku harus apa setelah ini? Setelah memilih untuk keluar dari zona yang tidak aku sukai, lantas aku harus berjalan ke mana lagi?


Lalu aku berpikir untuk mencari kerja, karena saat itu aku sudah mendapat uang saku karena sudah tidak kuliah. Waktu aku aku berpikir, aku mencari kerja agar bisa kembali daftar kuliah dengan uangku sendiri dari hasil bekerja. Karena sejujurnya, aku masih sangat ingin berkuliah jurusan Sastra Indonesia.


Aku pun melamar ke sana ke mari, ditolak, diabaikan, tidak diberi kabar setelah 2 minggu, hingga akhirnya aku ditawari pekerjaan oleh teman SD-ku. Aku menerima pekerjaan tersebut dengan posisi Admin di pabrik pembuatan komponen elektronik.


Setelah masuk kerja, aku melihat realita hidup yang sebenarnya. Di sini aku tidak bisa mengandal idealisku saja, aku benar-benar harus menjadi realistis terhadap kehidupan yang keras. Setiap harinya aku melihat adanya perdebatan karyawan dan atasan, bahkan aku sendiri pun ikut merasakan namanya dibentak. Sebelumnya tidak pernah.


6 bulan bertahan di dunia pekerjaan yang benar-benar menguji mentalku dan menguras tenaga

Proses Perjalanan Seorang Perempuan Mencari Jati Diri, Mencoba Segala Hal Baru Hingga Nyaman Pada Satu Titik

Foto oleh energepic.com dari Pexels


Sampai-sampai aku mengurungkan niatku untuk kembali daftar kuliah karena jam kerjaku yang padat. Namun aku bersyukur karena dapat merasakan hal itu untuk menjadi bekalku di dunia pekerjaan yang masih panjang perjalanannya. Setelah 6 bulan bekerja, kontrak bekerjaku ternyata tidak diperpanjang.


Aku pun kembali mencari pekerjaan. Dalam proses mencari pekerjaan ini aku tidak terpaku pada pengalaman yang sudah aku dapat yaitu menjadi Admin. Aku mencoba melamar dengan posisi yang berbeda dari pengalaman kerjaku sebelumnya, dengan tujuan untuk mencari pengalaman serta ilmu baru. Pikirku, hitung-hitung pengganti kuliah dengan mencari ilmu di dunia kerja.


Seorang introvert dipaksa untuk bertemu orang banyak setiap harinya

Proses Perjalanan Seorang Perempuan Dalam Mencari Jati Diri Hingga Nyaman Di satu Titik

Foto oleh fauxels dari Pexels


Setelah melamar diberbagai posisi, akhirnya aku diterima bekerja dengan posisi customer service di tempat digital printing. Pengalaman itu benar-benar menjadi pengalaman yang pertama kalinya di hidupku. Karena pekerjaanku kali ini adalah bertemu dengan banyak orang dan melayani banyak orang.


Sangat bertentangan dengan diriku yang introvert bahkan paling malas untuk ngobrol dengan orang, tapi sebagai customer service mewajibkanku untuk ramah serta melayani pelanggan dengan baik. Aku sempat kaget, karena ada saja pelanggan yang marah-marah walaupun kita sudah melayani dengan baik dan benar.


Aku hanya sanggup bertahan 3 bulan di situ, karena ternyata bertemu dengan banyak orang yang berbeda setiap harinya membuatku terus merasakan perang batin karena hal tersebut paling tidak aku sukai. Meski sebenarnya di tempat itu aku mendapatkan teman-teman yang asik dan baik, aku juga merasa mendapat kebahagiaan baru di tempat itu namun sayangnya jobdesk pekerjaanku kali ini bertentangan dengan tipe kepribadianku.


Benci matematika, tapi bekerja di posisi finance, kok bisa?

Proses Perjalanan Seorang Perempuan Dalam Mencari Jati Diri Hingga Nyaman Di satu Titik

Foto oleh olia danilevich dari Pexels


Kembali menjadi jobseeker, kali ini aku hanya 1 bulan menganggur dan kembali mendapat pekerjaan. Seperti biasa, aku melamar pekerjaan yang berbeda dari pengalaman kerjaku sebelumnya. Untuk yang sekarang aku mendapat pekerjaan di posisi finance. Sama sekali aku tidak memiliki basic di bidang ini, bahkan sewaktu sekolah aku sangat membenci pelajaran matematika atau yang berhubungan dengan hitung-menghitung.


Aku benar-benar mempelajari hal baru kali ini, aku belajar ilmu akuntansi dan rumus-rumus ms.excel. Tidak pernah terbayang sebelumnya aku bisa bekerja di posisi yang berhubungan dengan uang, karena aku pun sering kali pusing ketika menghitung kembalian sehabis belanja.


Namun aku mencoba untuk menyerap ilmu apapun yang diberikan oleh atasanku, aku juga sangat bersyukur karena masih ada perusahaan yang mau menerima seseorang yang belum berpengalaman justru diberi pengalaman dan ilmu baru.


Jarak antara rumah dan kantorku kini sangat jauh, aku tinggal Bogor sedangkan kantorku berada di Jakarta Pusat. Setiap harinya aku berangkat pukul 6 pagi dengan naik kereta api, lalu disambung lagi dengan naik transjakarta. Aku menempuh perjalanan selama 2 jam setiap harinya.


Aku menikmati masa-masa bekerja waktu itu, walaupun jauh dan pekerjaannya yang cukup rumit. Namun, aku kembali menemukan teman kerja yang dapat membuat rasa capek dan mumet dalam bekerjaku hilang. Bagiku, suasana dalam bekerja itu sangat penting untuk mendatangkan rasa semangat.


Sayangnya, aku hanya bekerja selama 7 bulan dan kembali harus berhenti karena mendapatkan pekerjaan yang dekat dari rumah.


Kini, aku bekerja di instansi pemerintah daerah. Lagi-lagi aku bekerja dengan posisi yang berbeda dari sebelumnya

Proses Perjalanan Seorang Perempuan Dalam Mencari Jati Diri Hingga Nyaman Di satu Titik

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels


Sudah tiga kali aku bekerja di tempat yang berbeda semenjak berhenti kuliah. Aku semakin jarang melakukan hobiku yakni menulis. Suatu malam aku pun kembali berpikir, mau sampai kapan aku menjelajah hal baru terus-menerus? Sebenarnya, apa yang sedang aku cari saat ini?


Kalau dulu aku berhenti kuliah karena aku merasa jurusan tersebut tidak sesuai dengan passion-ku, lantas mengapa saat ini aku justru bekerja yang sangat jauh dari passion.


Setelah ramai pertanyaan di kepalaku, akhirnya aku kembali mendapatkan ilham. Seharusnya kini aku memanfaatkan waktu luangku sehabis bekerja untuk menulis agar kemampuanku ini tidak hanya segitu-segitu saja, justru harus terus berkembang.


Profesi apapun yang aku jalani, hobi dan kemampuanku harus terus berjalan agar suatu saat hobi ini bisa mendatangkan profesi yang sesuai dengan passion-ku.


Kini aku semakin giat untuk menyalurkan ceritaku melalui tulisan, karena aku yakin dengan konsisten akan mengantarkan kita ke impian yang kita mau.


Setelah aku konsisten menyalurkan tulisanku ke dalam platform Hipwee, kini aku jadi mendapatkan pekerjaan sampingan yang sesuai dengan passion-ku. Aku menjadi Freelance Writer di Hipwee, dan sambil bekerja di Instansi Pemerintah Daerah.


Proses apa pun yang kita jalani selama kita yakin dalam menjalaninya tentunya akan mendatangkan hal-hal yang baik. Jangan pernah takut untuk mencoba segala hal yang baru, karena dengan hal baru tersebut dapat membuat kita jadi lebih mengenal diri sendiri.


Related Posts

There is no other posts in this category.
Subscribe Our Newsletter
} //]]>